Opini  

Ketika Motivasi Pegawai Menjadi Fondasi Kualitas Layanan Pendidikan Tinggi

Oleh : Dessy Herlina

Dessy Herlina memilih sektor pendidikan tinggi menjadi konteks kajiannya sebagai bagian dari kontribusi akademik di bidang manajemen. Ia menyoroti isu penting mengenai motivasi pegawai yang berperan besar dalam menjaga kualitas layanan kampus.

Menurut Dessy, tuntutan akreditasi dan birokrasi sering membuat organisasi lebih fokus pada pemenuhan aturan, sementara kebutuhan dasar pegawai untuk tetap bersemangat justru kurang diperhatikan.

Dessy mencatat, di banyak institusi pendidikan muncul tanda‑tanda turunnya motivasi, seperti jenjang karir yang tidak jelas, kesempatan studi lanjut yang tidak merata, pelibatan pegawai yang tidak konsisten dan kurangnya apresiasi yang terasa. Ketika pegawai merasa tidak berkembang atau tidak dihargai, mereka cenderung bekerja hanya demi gaji atau tunjangan, bukan karena dorongan dari dalam diri.

Untuk menjawab persoalan ini,
Dessy menggunakan Self‑Determination Theory (SDT) atau Teori Penentuan Nasib Sendiri yang menjelaskan bahwa seseorang akan lebih bersemangat jika tiga kebutuhan dasarnya terpenuhi :

  • Otonomi (punya ruang memilih cara kerja).
  • Kompetensi (merasa mampu dan terus berkembang).
  • Keterkaitan atau Relatedness (merasa dihargai dan diterima di lingkungan kerja).
Baca juga:  Strategi SDM di Era Kerja Fleksibel : Mengelola Tim Jarak Jauh dengan Efektif dan Efisien

Ia mengusulkan agar kampus memberi fleksibilitas kerja yang wajar untuk memenuhi otonomi, menyediakan pelatihan dan jalur pengembangan karir untuk memperkuat kompetensi serta membangun budaya kerja yang lebih manusiawi untuk memenuhi keterkaitan. Dengan cara ini, semangat kerja pegawai dapat tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat sekaligus peneliti Ilmu Manajemen ketika dimintai pendapat oleh Dessy, teori SDT menjadi sangat relevan karena mudah diterapkan dalam langkah sederhana.

Dr. Chandra menekankan pentingnya memperjelas jalur karir, membuka ruang dialog antara atasan dan pegawai, serta memberikan apresiasi yang adil.

Menurutnya, gagasan Dessy mengingatkan bahwa motivasi pegawai tidak tumbuh dari aturan yang kaku, tetapi dari lingkungan kerja yang membuat mereka merasa dihargai dan berkembang.**

Penulis merupakan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE, MM.