Opini  

Pentingnya Memahami Financial Behavior di Era Konsumtif

Oleh: Yulia Rosi

Di era digital saat ini, godaan untuk membelanjakan uang hadir hampir setiap detik melalui layar ponsel kita. Kemudahan akses belanja daring dan tren gaya hidup yang silih berganti sering kali membuat kita bertanya-tanya : mengapa rencana keuangan yang sudah disusun rapi sering kali gagal di tengah jalan? Jawabannya, ternyata karena adanya perilaku keuangan atau financial behavior kita sendiri.

Secara psikologis, kita cenderung membuat anggaran dalam kondisi tenang, namun saat dihadapkan pada godaan diskon atau tren sosial, kita terjebak dalam kondisi impulsif yang emosional.

Teori keuangan konvensional mungkin berasumsi bahwa kita akan selalu memaksimalkan keuntungan secara logis. Namun, kenyataannya, emosi, psikologi dan pengaruh lingkungan sosialsering kali memegang kendali lebih besar.

Salah satu fenomena yang marak terjadi saat ini adalah perilaku konsumtif yang dipicu oleh kebutuhan akan pengakuan sosial. Di era digital, pengakuan sosial bukan lagi sekadar pujian dari tetangga, melainkan jumlah likes, shares dan pandangan orang lain di media sosial.

Memahami financial behavior membantu kita mengenali “jebakan” dalam diri sendiri. Misalnya, kecenderungan untuk mengikuti arus atau tren sesaat, dimana kita ikut membeli sesuatu hanya karena banyak orang lain melakukannya, tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan pribadi.

Dalam buku Financial Behavior karya Dr. Seri Suriani, dijelaskan bahwa masyarakat yang cenderung konsumtif seringkali kurang memperhatikan tanggung jawab jangka panjang seperti menabung atau perencanaan dana darurat. Uang terkadang tidak lagi dilihat sebagai alat tukar fungsional, tetapi sebagai simbol status atau sarana untuk meredakan stres sesaat.

Baca juga:  Sejarah Bisnis Panglong di Kepulauan Riau Abad 19-20

Menghadapi tantangan di era konsumtif ini, literasi atau pengetahuan keuangan saja tidaklah cukup. Seseorang yang tahu teori investasi tetap bisa terjebak hutang jika tidak memiliki perilaku keuangan yang bertanggung jawab. Diperlukan keterampilan untuk mengendalikan dorongan impulsif, melakukan penganggaran yang disiplin dan memahami bahwa setiap keputusan keuangan saat ini akan membawa konsekuensi jangka panjang bagi kesejahteraan kita.

Mengelola keuangan adalah sebuah perjalanan untuk mengenali diri sendiri. Dengan memahami sisi perilaku dalam keuangan, kita diajak untuk lebih bijaksana dan sadar dalam setiap transaksi.

Keberhasilan finansial lebih ditentukan oleh kesabaran dan pengendalian diri dari pada kecerdasan matematika. Di era konsumtif, kemampuan untuk “tidak membeli” sesuatu yang mampu anda beli adalah super power.

Marilah kita mulai memandang pengelolaan uang bukan sebagai beban matematika yang rumit, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menciptakan masa depan yang lebih stabil dan sejahtera bagi diri sendiri maupun keluarga.

Penulis merupakan Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning